Minggu, 03 April 2016

ELANG JAWA


 Elang Jawa memiliki nama latin Nisaetus Bartelsi, yaitu salah satu dari spesies ELANG yang memiliki ukuran tubuh sedang yang hidup di Pulau Jawa. Elang Jawa ini sering kali di anggap identik sebagai lambang negara kita, negara Republik Indonesia, yaitu Burung Garuda. Dan sejak tahun 1992, Elang Jawa telah di tetapkan sebagai maskot satwa langka di Indonesia

Karakteristik Elang Jawa sangatlah mudah untuk di cermati, dimana Elang Jawa memiliki tubuh sedang hingga besar, langsing, dan panjang tubuhnya mencapai kisaran 60 sampai 70 cm (dari ujung paruh sampai ujung ekor).

 

Elang Jawa memiliki kepala berwarna coklat kemerahan (kadru), dan dengan jambul yang tinggi menonjol (2-4 bulu, panjang sampai 12 cm) serta tengkuk yang coklat kekuningan (terkadang terlihat keemasan apabila terkena cahaya matahari). Jambul hitam dengan ujung putih ; mahkota serta kumis berwarna hitam, namun punggung serta sayap coklat gelap. Kerongkongan keputihan dengan garis (sebenarnya garis-garis) hitam membujur di dalamnya. Pada area dada dada, terdapat coret-coret hitam menyebar diatas warna kuning kecoklatan pucat, yang selanjutnya di sebelah bawah lagi beralih jadi pola garis (coret-coret) rapat melintang merah sawomatang hingga kecoklatan diatas warna pucat keputihan bulu-bulu perut serta kaki. Bulu pada kaki menutup tungkai sampai dekat ke pangkal jari Elang Jawa. Ekor kecoklatan dengan empat garis gelap serta lebar melintang yang terlihat jelas di segi bawah, ujung ekor bergaris putih tidak tebal. Betina berwarna sama, sedikit semakin besar.
Iris mata yang dimiliki Elang Jawa berwarna kuning atau kecoklatan ; paruh kehitaman ; sera atau daging di pangkal paruh kekuningan ; kaki (jari) kekuningan. Burung Elang Jawa muda dengan kepala, leher serta bagian bawah tubuh Elang Jawa berwarna coklat kayu manis terang, tanpa adanya coretan atau garis-garis.
Saat terbang, Elang Jawa sama dengan elang brontok (nisaetus cirrhatus) wujud terang, tetapi condong terlihat lebih kecoklatan, dengan perut tampak lebih gelap, dan berukuran sedikit lebih kecil.
Kicauan Elang Jawa bunyinya sangat nyaring, berulang-ulang, klii-iiw atau ii-iiiw, beragam pada satu sampai tiga suku kata. Atau bunyi bernada tinggi serta cepat kli-kli-kli-kli-kli. Dan sedikit banyak, suaranya ini serupa dengan nada elang brontok walau perbedaannya cukup jelas didalam nadanya.

Penyebaran, Habitat dan Konservasi Elang Jawa

Persebaran burung Elang Jawa ini hanya sebatas di pulau Jawa, mulai ujung barat (Taman Nasional Ujung Kulon) sampai ujung timur di semenanjung blambangan purwo. Tetapi demikianlah penyebarannya saat ini terbatas di wilayah-wilayah dengan Hutan primer serta di tempat perbukitan berhutan tepatnya pada peralihan dataran rendah dengan daerah pegunungan. Sebagian besar dari Elang Jawa bisa ditemukan setidaknya di separuh belahan selatan dari pulau Jawa. Agaknya burung Elang ini hidup berspesialisasi pada lokasi berlereng.

 




Elang Jawa suka ekosistem Hutan hujan tropika yang senantiasa hijau, di dataran rendah ataupun pada tempat-tempat yang lebih tinggi. Dimulai dari lokasi dekat pantai layaknya di ujung kulon serta meru betiri, hingga ke hutan-hutan pegunungan bawah serta atas sampai ketinggian 2. 200 m serta terkadang 3. 000 mdpl.
Biasanya area tinggal Elang Jawa sulit untuk dicapai, walau tidak senantiasa jauh dari lokasi kegiatan manusia. Agaknya burung ini amat bergantung pada keberadaan Hutan primer sebagai area hidupnya. Meskipun ditemukan Elang yang memanfaatkan Hutan sekunder sebagai area berburu serta bersarang, walau demikian letaknya berdekatan dengan Hutan primer yang luas.
Burung pemangsa ini berburu dari area bertenggernya di pohon-pohon tinggi didalam Hutan. Dengan sigap serta tangkas menyergap bermacam mangsanya yang ada di dahan pohon ataupun yang diatas tanah, layaknya berbagai type reptil, burung-burung seperti walik, punai, dan lebih-lebih ayam kampung. Juga mamalia berukuran kecil hingga sedang layaknya tupai serta bajing, kalong, musang, s/d anak monyet.
Periode bertelur tercatat mulai bulan januari sampai juni. Sarang berbentuk tumpukan ranting-ranting berdaun yang disusun tinggi, dibuat pada cabang pohon setinggi 20-30 diatas tanah. Telurnya berjumlah satu butir, yang dierami sepanjang kurang-lebih 47 hari.
Pohon tempat bersarangnya Elang Jawa adalah beberapa jenis pohon Hutan yang tinggi, layaknya rasamala (nama latin : altingia excelsa), pasang (nama latin : lithocarpus sundaicus), tusam (nama latin : pinus merkusii), puspa (nama latin : schima wallichii), serta ki sireum (nama latin : eugenia clavimyrtus). Tidak senantiasa jauh ada didalam Hutan, ada juga sarang-sarang yang ditemukan cuma sejarak 200-300 m dari area rekreasi.
Di habitatnya, persebaran dari Elang Jawa sangatlah jarang. Walau luas tempat habitatnya, keseluruhan jumlahnya cuma kuran lebih 137-188 pasang burung, atau menurut perkiraan jumlah individu Elang ini berkisar sekitar 600 sampai 1.000 ekor. Populasi yang kecil ini hadapi ancaman besar terhadap kElangsungan kelestariannya, yang dikarenakan oleh kehilangan habitat serta eksploitasi type. Pembalakan liar serta konversi Hutan jadi tempat pertanian menjadikan berkurangnya tutupan Hutan primer yang ada di Jawa. Disamping itu , keberadaan Elang Jawa ini juga terus diburu oleh manusia untuk diperjual belikan di pasar gelap untuk di jadikan satwa peliharaan. Dikarenakan kelangkaannya, memelihara burung ini seolah jadi kebanggaan tersendiri, serta pada gilirannya jadikan harga burung Elang Jawa ini melambung tinggi.
Memperhitungkan kecilnya populasi, lokasi habitatnya yang terbatas serta tekanan tinggi yang dihadapi itu, pihak Organisasi Konservasi Dunia IUCN memasukkan Elang Jawa ke didalam status en (endangered, terancam kepunahan). Demikianlah juga, pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai hewan yang dilindungi oleh undang-undang.




SUMBER ARTIKEL:
http://www.satwa.net/380/mengenal-elang-jawa-penyebaran-dan-habitat-elang-jawa.html
sumber foto:
https://www.google.com/search?q=elang+jawa&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwjli_bl0p3MAhXMp5QKHSAnDT4Q_AUIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar