Rabu, 13 Juli 2016

Empat Langkah Sebelum Ambil Beasiswa S2 ke Luar Negeri Mulai dari memilih kampus yang dituju, melengkapi persyaratan, hingga pilih program beasiswa yang sesuai dengan tujuan mengambil S2 ke luar negeri.

Lanjut kerja atau kuliah lagi ya? Pertanyaan itu acapkali muncul tak lama usai mahasiswa menyelesaikan masa studinya di strata satu (S1). Hasrat untuk menuntut ilmu di jenjang yang lebih tinggi atau memulai karir membayang-bayangi setiap saat. Bagi kalian yang memilih untuk melanjutkan studi strata dua (S2), ada dua pilihan yang bisa kamu ambil, salah satunya dengan memilih melanjutkan S2 ke luar negeri.
Melanjutkan S2 ke luar negeri tentu membutuhkan biaya yang sangat besar. Tak hanya itu, kendala lainnya misalnya terkait dengan sejumlah perizinan juga mesti dilengkapi. Soal kendala biaya besar, solusi yang bisa ditempuh dengan mencari beasiswa. Namun, persaingan mendapatkan beasiswa S2 ke luar negeri begitu ketat.
Kemampuan intelektual saja tidak cukup ‘memenangkan’ beasiswa S2 luar negeri. Namun ada hal lain di luar faktor intelektualitas yang mesti dipersiapkan dan dilengkapi oleh setiap orang. Karenanya, hukumonline mencoba merangkum sejumlah hal apa saja yang mesti dipersiapkan sebelum kalian mencari beasiswa S2 ke luar negeri. Berikut empat langkah yang bisa dilakukan sebelum mengambil beasiswa S2 ke luar negeri.
1. Tentukan Kampus
Hal pertama yang mesti dilakukan adalah menentukan kampus mana yang sesuai dengan yang diinginkan. Ini menjadi penting karena saat kita tahu dan sudah menentukan kampus yang dituju, maka kita akan lebih fokus terutama dalam mencari informasi yang diperlukan. Misalnya saja yang dilakukan oleh Anisa Widyasari, Alumni FH Unpad angkatan 2006.
Ketertarikan Anisa pada bidang Kekayaan Intelektual (KI) saat kuliah S1 mengarahkan penelusurannya ke sejumlah kampus di luar negeri yang unggul dalam bidang KI. “HAKI (sekarang KI) tertarik banget, jadi aku udah dari zaman kuliah udah cari-cari kira-kira kampus mana yang HAKI-nya bagus. Malah lebih spesifik lagi aku tertarik banget sama pengetahuan tradisional,” katanya saat dihubungi hukumonline, Sabtu (26/9)
Lebih lanjut, Anisa mengatakan, keuntungan yang didapat saat sudah menentukan kampus mana yang akan dituju akan dirasa ketika nanti masuk proses belajar di kampus itu. Jika sudah fokus penentuan kampus sejak awal, maka akan membantu saat mendalami materi kuliah. Dan pada akhirnya, penulisan thesis bisa lebih mudah.
Selain itu, manfaat yang lain yang didapat misalnya persyaratan-persyaratan yang diminta kampus juga sudah diketahui sejak awal. ”Kalau sudah tahu kampusnya, kita tahu kampus itu butuh syarat-syarat apa aja,” imbuhnya.
Anisa juga mengatakan, kalau kampus yang dipilih itu termasuk dalam Top 20 Dunia, hal itu menjadi keuntungan tersendiri. Namun, yang utama bukanlah pada soal peringkat berapa kampus itu berada. Tapi yang lebih penting adalah peringkat jurusan yang akan diambil di suatu kampus itulah yang mesti di pertimbangkan.
“Misalkan dia di peringkat dunia ngga terlalu bagus. Tapi khusus untuk dibidang itu dia bagus. Kalau menurut aku sih lebih bagus gitu,” kata jebolan The Universityof Edinburgh tahun 2014-2015 ini.
Senada dengan Anisa, Lulusan FH UI angkatan 2006, Lita Paromita Siregar juga menilai kalau ranking yang mesti dilihat adalah ranking pada program studinya. Misalnya saja, peringkat Durham University tidak lebih baik dari Oxford University, namun khusus untuk jurusan Ekonomi Syariah, Durham University justru lebih unggul. “Tapi kita jangan lihat ranking kampus tapi lihat ranking program studinya,” tuturnya.
Selain karena alasan ranking, pilihan Lita jatuh ke Durham University, lantaran ia memproyeksikan kalau industri keuangan syariah di Inggris akan berkembang pesat. “Yang terpenting lihat chance ke depan kaya keuangan syariah paling berkembang di negara mana. Pemilihan negara juga dilihat dari sana,” paparnya.
2. Lengkapi Syarat-Syarat
Pada dasarnya setiap kampus memiliki sejumlah persyaratan yang berbeda. Namun, sebagai acuan, sejumlah syarat ini biasanya wajib dilampirkan sebagai syarat memperoleh beasiswa. Persyaratan itu, antara lain sertifikat IELTS, surat rekomendasi secara akademik atau profesional, cover letter, motivation letter, hingga future planning.
Dikatakan Anisa, persyaratan itu bisa diketahui kalau sejak awal kita sudah menentukan kampus mana yang akan dipilih. “Misalnya butuh skor IELTS yang dibutuhin berapa, jadi kita tahu targetnya berapa,” sebutnya.
Untuk recommendation Letter, Anisa menyarankan agar meminta kepada orang yang memang mengetahui serta mengenal pribadi kita dengan baik. Pengalaman Anisa saat itu, dia meminta surat rekomendasi itu kepada salah satu dosen di FH Unpad. Hal ini sudah menjadi kebiasaan untuk meminta surat rekomendasi dari professor yang memiliki banyak gelar dibelakang namanya.
“Menurut pengalaman aku lebih baik minta ke orang yang benar-benar kenal sama kita. Sama dosen yang kerja bareng sama aku, jadi tahu banget aku gimana,” usulnya.
Sedangkan kalau bagi Lita, dia menyarankan agar surat rekomendasi bisa meng-cover dari dua sisi, yakni sisi akademik dan juga sisi professional. Misalnya dari sisi non-akademik atau professional, dirinya meminta rekomendasi dari organisasi tempatnya aktif berkegiatan, yakni kepada pembina prganisasi Mom and Baby Center, Heru Susetyo.
“Kalau bisa sih cover dari dua, akademik dan keaktifan organisasi,” Kata Lita, penerima beasiswa LPDP yang akan berangkat pada tahun 2016 nanti.
3. Penting! Untuk Kantongi LOA
Ini hal penting yang mesti dipenuhi oleh calon penerima beasiswa. sertifikat letter of acceptance (LOA) adalah surat yang menyatakan kalau calon mahasiswa diterima di kampus yang dituju. Meskipun tidak semua program beasiswa mewajibkan untuk melampirkan LOA saat mendaftar tetapi cara ini bisa jadi strategi jitu agar bisa mendapatkan beasiswa.
“Mereka bahkan lebih senang kalau kita sudah punya LOA sendiri. Kaya kita udah ada effort-nya sendiri, itu jadi nilai tambah ketika kita apply beasiswa ke mereka. Kita udah jelas fokusnya ngga cuma asal pengen daftar beasiswa ke luar negeri,” papar Anisa.
Walau Begitu, kepemilikan LOA kondisional. “LOA bisa conditional dan unconditional, kalau conditional biasanya karena IELTS kita ngga mencukupi. Kita bisa diterima di sana kalau tes IELTS ulang. Kalau unconditional kita berarti udah keterima, tinggal ngurus pembayaran aja,” katanya.
4. Pilih Beasiswa yang Sesuai
Langkah lainnya, lanjut Anisa, adalah pemilihan beasiswa yang sesuai dengan tujuan kita mengambil S2 ke luar negeri. Seperti yang dirinya lakukan, adalah mendapat beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang mensyaratkan agar setelah lulus S2 mesti kembali lagi ke Indonesia. Ketentuan itu dinilai Anisa sejalan dengan tujuannya sejak awal sehingga dia memilih program beasiswa dari LPDP tersebut.
“Kita harus jelas niat keluar ini mau apa. Kalau aku niat keluar dari awal karena memang mau pulang lagi ke Indonesia. Jadi, kalau untuk beasiswa seperti LPDP itu mengharuskan kita kembali ke Indonesia setelah kita selesai beasiswa,” pungkasnya.







referensi:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar