KECERDASAN EMOSIONAL PADA PENGEMUDI
OJEK KONVENSIONAL
Oleh Atikah M Djula, Cahaya
Nurhaliza, Elsa Divia Mawazky, dan Nadia
Fakultas Psikologi Universitas
Gunadarma
Depok, 2017
Perkembangan
zaman saat ini sudah semakin pesat. Bahkan saat ini tidak menutup kemungkinan
bahwa melakukan hal-hal yang biasa dilakukan manual bisa digantikan dengan
hanya mengandalkan gadget saja. Contohnya untuk kebutuhan transportasi yang
saat ini bisa dipesan secara online. Hal ini merupakan kemajuan di
bidang teknologi, namun tidak lepas dari kekurangannya. Akhir waktu kita sering
menemukan berita mengenai konflik yang terjadi antara pengemudi ojek
konvensional dengan pengemudi ojek online. Bahkan pengemudi ojek
konvensional di beberapa daerah tertentu menolak kehadiran transportasi online,
tidak jarang ditemukan berupa poster larangan mengambil penumpang atau
beroperasi yang diberlakukan bagi pengemudi transportasi online.
Pengemudi ojek konvensional merasa tersaingi dan menganggap bahwa dengan adanya
transportasi online, penghasilan mereka mengalami penurunan. Menurut
mereka banyak orang yang tadinya menggunakan jasa mereka beralih menggunakan
transportasi online. Emosi yang mereka rasakan membuat pengemudi ojek
konvensional melampiaskannya kepada pengemudi ojek online. Memang suatu
hal tidak lepas dari kelebihan dan kekurangannya.
Emosi sendiri
merupakan salah satu aspek yang berpengaruh besar terhadap sikap manusia. Emosi
pada prinsipnya menggambarkan perasaan manusia menghadapi berbagai situasi yang
berbeda. Oleh karenanya, emosi merupakan reaksi manusiawi terhadap berbagai
situasi, maka sering dikatakan bahwa manusia memiliki kecerdasan emosional.
Lebih dari itu, kecerdasan emosi terkait erat dengan bagaimana seseorang mampu
bersikap tenang dalam situasi yang tegang, tidak hanya mengandalkan amarah atau
kekuatan semata dan tahu tentang tujuan hidupnya serta bertanggung jawab dalam
segala hal yang terjadi dalam hidupnya sebagai bukti tingginya kecerdasan emosi
yang dimiliki.
Permasalahan
yang terjadi saat ini adalah dimana tidak sedikit pengemudi ojek konvensional
yang melakukan hal-hal anarkis kepada pengemudi ojek online. Kami
tertarik untuk melakukan penelitian mengenai kecerdasan emosi yang dimiliki
oleh seorang pengemudi ojek konvensional. Lantas, bagaimana kecerdasan emosi
seorang pengemudi ojek konvensional?
Penelitian ini
dilakukan guna mengkaji kecerdasan emosi, serta untuk memahami kecerdasan
emosional yang dimiliki oleh seorang pengemudi ojek konvensional. Hasil
penelitian juga diharapkan dapat digunakan sebagai bahan referensi untuk
memperoleh gambaran mengenai kecerdasan emosional pada pengemudi ojek
konvensional dan dapat menjadikan solusi antara pengemudi ojek konvensional
dengan pengemudi ojek online.
·
Definisi
Kecerdasan Emosional
Goleman (1997)
mengemukakan, kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk memotivasi diri
sendiri dan bertahan menghadapi frustasi; mengendalikan dorongan hati dan tidak
melebih-lebihkan kesenangan; mengatur suasana hati dan menjaga agar beban
stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir; berempati dan berdoa.
Menurut Salovey
dan Meyer (dalam Walgito, 2010), kecerdasan emosi adalah kemampuan mengenali
emosi diri sendiri, mengelola, dan mengekspresikan emosi diri sendiri dengan
tepat, memotivasi diri sendiri, mengenali oranglain, dan membuka hubungan
dengan orang lain.
Dengan demikian,
kecerdasan emosi adalah kemampuan dalam mengenali, mengolah, dan memahami emosi
diri dengan mengekspresikannya secara efektif dan baik.
·
Aspek-aspek
Kecerdasan Emosional
Salovey (dalam
wiguna, 2014) mengemukakan lima kecakapan dasar dalam kecerdasan emosional:
1.
Knowing
one’s emotions,
yakni mengenali emosi diri.
2.
Managing
emotions, yakni
mengelola emosi; menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan pas.
3.
Motivation
oneself, yakni
memotivasi diri sendiri; menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah
hal yang sangat penting dalam kaitan untuk memberi perhatian, untuk memotivasi
diri sendiri dan menguasai diri sendiri.
4.
Recognizing
emotions in other,
yakni mengenali emosi orang lain.
5.
Handling
relationship,
yakni membina hubungan dengan orang lain.
·
Defnisi
Ojek Konvensional
Ojek (juga
disebut ojeg) adalah transportasi umum tidak resmi di Indonesia berupa sepeda
motor atau sepeda yang disewakan dengan cara memboncengkan penumpang. Penumpang
biasanya satu orang namun kadang bisa berdua. Dengan harga yang ditentukan dengan
tawar menawar dengan sopirnya dahulu setelah itu sang sopir akan mengantar ke
tujuan yang diinginkan penumpangnya.
·
Rancangan
Penelitian
Populasi penelitian ini adalah
pengemudi ojek konvensional, dan sampel yang kami gunakan dalam penelitian ini
adalah seorang pengemudi ojek konvensional. Kami menggunakan metode naratif
dalam penelitian ini dimana kami mendeskripsikan suatu peristiwa terkait dengan
pengalaman partisipan mengenai periwtiwa tersebut. Untuk mengumpulkan data,
kami menggunakan teknik wawancara dan observasi, wawancara dilakukan dengan
wawancara tatap muka dan dibarengi dengan pengamatan terhadap gerak non-verbal
yang dilakukan oleh subjek.
Penelitian ini dilakukan guna
mengkaji kecerdasan emosi, serta untuk memahami kecerdasan emosional yang
dimiliki oleh seorang pengemudi ojek konvensional. Hasil penelitian juga
diharapkan dapat digunakan sebagai bahan referensi untuk memperoleh gambaran
mengenai kecerdasan emosional pada pengemudi ojek konvensional dan dapat
menjadikan solusi antara pengemudi ojek konvensional dengan pengemudi ojek
online.
Dengan ini,
proposal penelitian ini kami harapkan dapat dilanjutkan ke penelitian
selanjutnya dengan lebih lengkap dan dengan persiapan yang lebih lengkap pula.
Kekurangan-kekurangan yang ada di dalam penelitian ini akan di koreksi dan di
revisi pada waktu yang akan datang.
Sumber:
·
Goleman,
D. (1997). Emotional intelligence. (penerjemah: T. Hermaya). Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.
·
Walgito,
B. (2010). Pengantar psikologi umum. Yogyakarta: Andi.
·
Wiguna,
A. (2014). Isu-isu kontemporer pendidikan islam. Yogyakarta: Deepublish.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar